Minggu, 21 September 2014

Hubungan Kita

Wah, sepertinya ini kembali lagi pada edisi sebuah malam. Ternyata sebagian besar malam yang aku dan beberapa temanku gunakan untuk belajar malam sangat berguna untuk kehidupanku, khususnya.
Mungkin blog ini isinya begini-begini aja ya? Bosen mungkin ya bacanya? Maaf, ini lagi proses berbenah.Termasuk membenahi cara nulis di blog. Hehe

Senja itu, saat mulai menginjak malam. Lebih tepatnya usai Sholat Maghrib sih. Aku dan beberapa orang temanku duduk melingkar di sebuah ruangan ditemani deru kipas angin dan dinginnya AC. Diskusi dimulai. Kali itu, sedang membicarakan tentang SILATURRAHIM.

Silaturrahim dibagi menjadi tiga. Silatuddu'aa, silatul aqli, dan silatul jismi. Masing-masing memiliki arti yang berbeda *pastinya! Tapi, intinya dengan ketiga macam silaturrahim itu sam-sama memiliki manfaat mendekatkan yang jauh dan merekatkan serta mengencangkan tali yang renggang.

Silaturrahim yang pertama, silatuddu'aa. Sesuai dengan namanya, silatuddu'aa. Silaturrahim yang berupa do'a. Saling mendo'akan satu sama lain sudah termasuk dalam silutarrahim. Mendo'akan saudara-saudara dan kerabat, mendo'akan saudara seiman dan semuslim, dan mendo'akan banyak orang. Allah menyambungkan ikatan kita dengan do'a-do'a yang kita panjatkan padaNya untuk orang-orang tersebut.

Yang kedua, silatul aqli. Silaturrahim dengan cara bertukar pikiran. Berdiskusi atau apalah itu namanya. Em, pernah telepon? Atau SMS? Atau kirim email? Atau yang sejenisnya? Dengan tujuan berdiskusi bertukar pikiran atau menyambung tali silaturrahim. Dengan hal tersebut, silaturrahim tetap terjalin walaupun dengan jarak yang jauh.

Yang ketiga, silatul jismi.Yang ini nih, silaturrahim yang sering diperbincangkan. Silaturahim dengan bertemu secara langsung. Waktu Idul Fitri apalagi kan? Biasanya mudik, ketemu saudara-saudara dekat, saudara-saudara jauh. Kembali mengencangkan tali silaturrahim deh. Silatul jismi ini yang menyempurnakan silatuddu'aa dan silatul aqli.

Jadi, silaturrahim gak cuma dengan cara ketemu aja. Bisa pake do'a, bisa telpon. Tapi, yang paling utama dan menyempurnakan ya dengan ketemu sih. Daripada terputus begitu saja karena jarak, lebih baik mengencangkan tali kekerabatan dengan silatuddu'aa atau silatul aqli, bukan?

Jangan sampai kita memutus tali silaturrahim hanya karena hal yang sepele. =)
Salam kebaikan :)


Jumat, 12 September 2014

Rezeki yang Tertolak?

Edisi malam.Lagi. Belajar malam bersama salah satu ustadzah di sebuah madrasah.
Kali ini beliau membahas tentang Asma'ulHusna yang dimiliki Allah. Ar-Razaq. Maha Pemberi Rezeki. Bahasan ini sangat erat dengan kehidupan kita sehari-hari. Tentu. Kita hidup dengan semua limpahan anugerah dan rezeki dari yang Maha Pemberi Rezeki, bukan?

Karena itulah, pasti ada beberapa faktor yang menyebabkan rezeki kita terhambat.. apa saja ituu??
ini diaaa..
* Turunnya tawakkal pada Allah
* Bergantung pada selain Allah
* Dosa dan Maksiat
* Pekerjaan yang melalaikan diri dari Allah
* Enggan bersedekah

yah, itulah lima perbuatan yang bisamenjauhkan diri kita dari rezeki Allah yang harusnya diberikanNya pada kita.. Semoga saja kita tidak termasuk ke dalam orang-orang yang melakukan hal-hal tersebut.. =)

Salam kebaikan, semoga bermanfaat :)

Rabu, 10 September 2014

Besar atau Kecil?

Suatu malam di serambi masjid sebuah madrasah,aku dan seorang temanku sedikit berdiskusi tentang isi sebuah surat dalam Al-qur'an yang terdapat pada juz 30, 'Abasa..

Bermuka masam. Dari apa yang aku tau, aku cerita sama temen aku itu.. Ayat itu turun setelah Rasulullah sedang bersama pembesar kaum Kafir Quraisy namun ada seorang sahabat yang datang. Abdullah Ibnu Ummi Maktum, seorang sahabat yang buta namun sangat bersemangat untuk belajar islam kepada rasulullah SAW. Rasul menanggapi permintaan Abdullah Ibnu Ummi Maktum dengan wajah yang masam. kemudian Allah menegur Rasul dengan menurunkan ayat tersebut.

Hanya diskusi yang sangat singkat antara aku dan temanku saat itu. Diskusi yang hanya mendiskusikan apa yang kita pikikan tentang ayat tersebut.

Kami menggambarkan, bahwa saat itu rasulullah sedang bersama pembesar Kafir Quraisy yang menurut kami mereka adalah orang-orang yang memiliki hati sekeras batu yang susah untuk dilunakkan. Sedangkan, ada seorang sahabat yang sangat ingin mendapat nasehat dari rasulullah. seseorang yang sudah masuk Islam tentunya. berada di sekitar beliau.

Dengan gambaran itu, kami mencoba membayangkan jika hal itu berada pada jaman sekarang. Kami mengumpamakan para pembesar adalah sesuatu yang kita kejar, namun belum tentu kita bisa dapatkan padahal, di sekitar kita sangat banyak sesuatu yang belum kita raih dan kadang sekalipun kita tidak menghiraukan keberadaannya. Hal-hal kecil itulah yang sebenarnya sedang menunggu uluran tangan kita untuk diraih.

"Mengapa kita mengejar sesuatu yang memang besar,namun belum tentu kita meraihnya. padahal di sekitar kita banyak yang menyambut uluran tangan kita?" Bagaimanapun, kita tidak boleh meremehkan hal-hal kecil yang sebenarnya lebih bermanfaat daripada hal-hal yang lebih besar.

Tidak ada salahnya jika kita mendahulukan hal-hal kecil yang lebih bermanfaat kemudian barulah kita berusaha meraih sesuatu yang lebih besar. Kalau bisa dimisalkan, seperti kebutuhan primer dan sekunder. kebutuhan primer yang lebih penting harus didahulukan kemudian,baru memenuhi kebutuhan sekunder.

Wallahu a'lam bishowab