Suatu malam di serambi masjid sebuah madrasah,aku dan seorang temanku
sedikit berdiskusi tentang isi sebuah surat dalam Al-qur'an yang
terdapat pada juz 30, 'Abasa..
Bermuka masam. Dari apa
yang aku tau, aku cerita sama temen aku itu.. Ayat itu turun setelah
Rasulullah sedang bersama pembesar kaum Kafir Quraisy namun ada seorang
sahabat yang datang. Abdullah Ibnu Ummi Maktum, seorang sahabat yang
buta namun sangat bersemangat untuk belajar islam kepada rasulullah SAW.
Rasul menanggapi permintaan Abdullah Ibnu Ummi Maktum dengan wajah yang
masam. kemudian Allah menegur Rasul dengan menurunkan ayat tersebut.
Hanya
diskusi yang sangat singkat antara aku dan temanku saat itu. Diskusi
yang hanya mendiskusikan apa yang kita pikikan tentang ayat tersebut.
Kami
menggambarkan, bahwa saat itu rasulullah sedang bersama pembesar Kafir
Quraisy yang menurut kami mereka adalah orang-orang yang memiliki hati
sekeras batu yang susah untuk dilunakkan. Sedangkan, ada seorang sahabat
yang sangat ingin mendapat nasehat dari rasulullah. seseorang yang
sudah masuk Islam tentunya. berada di sekitar beliau.
Dengan
gambaran itu, kami mencoba membayangkan jika hal itu berada pada jaman
sekarang. Kami mengumpamakan para pembesar adalah sesuatu yang kita
kejar, namun belum tentu kita bisa dapatkan padahal, di sekitar kita
sangat banyak sesuatu yang belum kita raih dan kadang sekalipun kita
tidak menghiraukan keberadaannya. Hal-hal kecil itulah yang sebenarnya
sedang menunggu uluran tangan kita untuk diraih.
"Mengapa
kita mengejar sesuatu yang memang besar,namun belum tentu kita
meraihnya. padahal di sekitar kita banyak yang menyambut uluran tangan
kita?" Bagaimanapun, kita tidak boleh meremehkan hal-hal kecil yang
sebenarnya lebih bermanfaat daripada hal-hal yang lebih besar.
Tidak
ada salahnya jika kita mendahulukan hal-hal kecil yang lebih bermanfaat
kemudian barulah kita berusaha meraih sesuatu yang lebih besar. Kalau
bisa dimisalkan, seperti kebutuhan primer dan sekunder. kebutuhan primer
yang lebih penting harus didahulukan kemudian,baru memenuhi kebutuhan
sekunder.
Wallahu a'lam bishowab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar