Semua pendahulu pasti akan mengalami masa di mana mereka merasa kecewa ataupun iri dan puas atas kinerja para generasi setelahnya. Begitu halnya yang terjadi pada generasi OSIS MAN Insan Cendekia Serpong periode lama yang mulai memasuki periode baru dengan para pengurus yang baru.
Sebuah kewajaran dan sangat manusiawi jika pengurus yang terdahulu membuat sebuah perbandingan antara pengurus baru dan pengurus lama. Dari berbagai sisi. Efektivitas, kreativitas, dan berbagai hal yang lain yang dirasa memiliki perbedaan yang terlihat. Pengurus baru yang sedang mencari jati diri organisasi merekapun sebenarnya juga sedang berbenah.Kritik dan saran harus mereka terima dari semua kalangan, tak terkecuali dari para pendahulu mereka. Berbagai program kerja telah diperbarui dan dirombak sedemikian rupa ternyata tak membuat organisasi mereka selamat dari berbagai pandangan yang memandang mereka sebelah mata. Karena memang kehidupan adalah sebuah perjalanan untuk membenahi diri.
Mungkin alasan pembangunan dan renovasi besar-besaran bisa dijadikan sebuah alasan mengapa mereka menyusun program kerja sedemikian rupa. Namun, beberapa program kerja yang dinilai "menyusahkan" dan "memberatkan" kinerja mereka ternyata juga tetap mereka jalankan. Entah dengan pertimbangan apa saja mereka bisa mengeluarkan kebijakan yang dinilai juga memberatkan.
Seiring dengan pembaharuan program kerja, program kerja yang merupakan turunan dari periode lamapun masih tetap mereka pertahankan. Seperti daur asrama dan hari disiplin. Namun, mereka membenahi peraturan yang berlaku mengenai program-program kerja tersebut. Seperti misalnya diwajibkannya datang ke masjid saat sholat ashar diwaktu hari disiplin dan mengubah batas keterlambatan menuju masjid.
Niat baik yang mereka bangun menurut saya tidak cukup untuk membangun organisasi yang kuat dan baik. Selain niat baik untuk mengubah lingkungan melalui tanggung jawab kepemimpinan, organisasi tersebut harus memiliki kemampuan untuk mengkomunikasikan kebijakan baru dan berbagai hal dengan berbagai pihak. Sehingga kebijakan yang dikeluarkan tidak bersifat sepihak dan otoriter bagi masyarakat yang dipimpinnya.
Karena masyarakat bukanlah boneka yang bisa dikendalikan seenaknya. Karena masyarakat bukanlah arus yang hanya mengikuti perintah dengan begitu saja. Masyarakat punya suara, masyarakat juga memiliki kepentingan.Masyarakat juga memiliki hal-hal yang juga harus diperhatikan oleh para penentu kebijakan. Para penentu kebijakan harus menyelaraskan kebijakan yang dibuat dengan masyarakatnya.
Ekstensifikasi tidak begitu penting jika intensifikasi dari program kerja lama tidak bisa dijalankan dengan konsistensi. Program kerja lama yang telah diturunkan adalah sebuah bentuk konsistensi yang terus berlanjut jika dijalankan dengan sepenuh hati dan keistiqomahan. Mengapa harus ada program kerja baru jika program kerja lama yang tetap dipertahankanpun akhirnya tidak bisa bertahan dengan baik? Bukan masalah banyaknya program kerja, tapi bagaimana program kerja itu berjalan dengan baik dan selaras dengan masyarakat yang ada di dalamnya.
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki keputusan~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar