Wah, sepertinya ini kembali lagi pada edisi sebuah malam. Ternyata sebagian besar malam yang aku dan beberapa temanku gunakan untuk belajar malam sangat berguna untuk kehidupanku, khususnya.
Mungkin blog ini isinya begini-begini aja ya? Bosen mungkin ya bacanya? Maaf, ini lagi proses berbenah.Termasuk membenahi cara nulis di blog. Hehe
Senja itu, saat mulai menginjak malam. Lebih tepatnya usai Sholat Maghrib sih. Aku dan beberapa orang temanku duduk melingkar di sebuah ruangan ditemani deru kipas angin dan dinginnya AC. Diskusi dimulai. Kali itu, sedang membicarakan tentang SILATURRAHIM.
Silaturrahim dibagi menjadi tiga. Silatuddu'aa, silatul aqli, dan silatul jismi. Masing-masing memiliki arti yang berbeda *pastinya! Tapi, intinya dengan ketiga macam silaturrahim itu sam-sama memiliki manfaat mendekatkan yang jauh dan merekatkan serta mengencangkan tali yang renggang.
Silaturrahim yang pertama, silatuddu'aa. Sesuai dengan namanya, silatuddu'aa. Silaturrahim yang berupa do'a. Saling mendo'akan satu sama lain sudah termasuk dalam silutarrahim. Mendo'akan saudara-saudara dan kerabat, mendo'akan saudara seiman dan semuslim, dan mendo'akan banyak orang. Allah menyambungkan ikatan kita dengan do'a-do'a yang kita panjatkan padaNya untuk orang-orang tersebut.
Yang kedua, silatul aqli. Silaturrahim dengan cara bertukar pikiran. Berdiskusi atau apalah itu namanya. Em, pernah telepon? Atau SMS? Atau kirim email? Atau yang sejenisnya? Dengan tujuan berdiskusi bertukar pikiran atau menyambung tali silaturrahim. Dengan hal tersebut, silaturrahim tetap terjalin walaupun dengan jarak yang jauh.
Yang ketiga, silatul jismi.Yang ini nih, silaturrahim yang sering diperbincangkan. Silaturahim dengan bertemu secara langsung. Waktu Idul Fitri apalagi kan? Biasanya mudik, ketemu saudara-saudara dekat, saudara-saudara jauh. Kembali mengencangkan tali silaturrahim deh. Silatul jismi ini yang menyempurnakan silatuddu'aa dan silatul aqli.
Jadi, silaturrahim gak cuma dengan cara ketemu aja. Bisa pake do'a, bisa telpon. Tapi, yang paling utama dan menyempurnakan ya dengan ketemu sih. Daripada terputus begitu saja karena jarak, lebih baik mengencangkan tali kekerabatan dengan silatuddu'aa atau silatul aqli, bukan?
Jangan sampai kita memutus tali silaturrahim hanya karena hal yang sepele. =)
Salam kebaikan :)
Minggu, 21 September 2014
Jumat, 12 September 2014
Rezeki yang Tertolak?
Edisi malam.Lagi. Belajar malam bersama salah satu ustadzah di sebuah madrasah.
Kali ini beliau membahas tentang Asma'ulHusna yang dimiliki Allah. Ar-Razaq. Maha Pemberi Rezeki. Bahasan ini sangat erat dengan kehidupan kita sehari-hari. Tentu. Kita hidup dengan semua limpahan anugerah dan rezeki dari yang Maha Pemberi Rezeki, bukan?
Karena itulah, pasti ada beberapa faktor yang menyebabkan rezeki kita terhambat.. apa saja ituu??
ini diaaa..
* Turunnya tawakkal pada Allah
* Bergantung pada selain Allah
* Dosa dan Maksiat
* Pekerjaan yang melalaikan diri dari Allah
* Enggan bersedekah
yah, itulah lima perbuatan yang bisamenjauhkan diri kita dari rezeki Allah yang harusnya diberikanNya pada kita.. Semoga saja kita tidak termasuk ke dalam orang-orang yang melakukan hal-hal tersebut.. =)
Salam kebaikan, semoga bermanfaat :)
Kali ini beliau membahas tentang Asma'ulHusna yang dimiliki Allah. Ar-Razaq. Maha Pemberi Rezeki. Bahasan ini sangat erat dengan kehidupan kita sehari-hari. Tentu. Kita hidup dengan semua limpahan anugerah dan rezeki dari yang Maha Pemberi Rezeki, bukan?
Karena itulah, pasti ada beberapa faktor yang menyebabkan rezeki kita terhambat.. apa saja ituu??
ini diaaa..
* Turunnya tawakkal pada Allah
* Bergantung pada selain Allah
* Dosa dan Maksiat
* Pekerjaan yang melalaikan diri dari Allah
* Enggan bersedekah
yah, itulah lima perbuatan yang bisamenjauhkan diri kita dari rezeki Allah yang harusnya diberikanNya pada kita.. Semoga saja kita tidak termasuk ke dalam orang-orang yang melakukan hal-hal tersebut.. =)
Salam kebaikan, semoga bermanfaat :)
Rabu, 10 September 2014
Besar atau Kecil?
Suatu malam di serambi masjid sebuah madrasah,aku dan seorang temanku
sedikit berdiskusi tentang isi sebuah surat dalam Al-qur'an yang
terdapat pada juz 30, 'Abasa..
Bermuka masam. Dari apa yang aku tau, aku cerita sama temen aku itu.. Ayat itu turun setelah Rasulullah sedang bersama pembesar kaum Kafir Quraisy namun ada seorang sahabat yang datang. Abdullah Ibnu Ummi Maktum, seorang sahabat yang buta namun sangat bersemangat untuk belajar islam kepada rasulullah SAW. Rasul menanggapi permintaan Abdullah Ibnu Ummi Maktum dengan wajah yang masam. kemudian Allah menegur Rasul dengan menurunkan ayat tersebut.
Hanya diskusi yang sangat singkat antara aku dan temanku saat itu. Diskusi yang hanya mendiskusikan apa yang kita pikikan tentang ayat tersebut.
Kami menggambarkan, bahwa saat itu rasulullah sedang bersama pembesar Kafir Quraisy yang menurut kami mereka adalah orang-orang yang memiliki hati sekeras batu yang susah untuk dilunakkan. Sedangkan, ada seorang sahabat yang sangat ingin mendapat nasehat dari rasulullah. seseorang yang sudah masuk Islam tentunya. berada di sekitar beliau.
Dengan gambaran itu, kami mencoba membayangkan jika hal itu berada pada jaman sekarang. Kami mengumpamakan para pembesar adalah sesuatu yang kita kejar, namun belum tentu kita bisa dapatkan padahal, di sekitar kita sangat banyak sesuatu yang belum kita raih dan kadang sekalipun kita tidak menghiraukan keberadaannya. Hal-hal kecil itulah yang sebenarnya sedang menunggu uluran tangan kita untuk diraih.
"Mengapa kita mengejar sesuatu yang memang besar,namun belum tentu kita meraihnya. padahal di sekitar kita banyak yang menyambut uluran tangan kita?" Bagaimanapun, kita tidak boleh meremehkan hal-hal kecil yang sebenarnya lebih bermanfaat daripada hal-hal yang lebih besar.
Tidak ada salahnya jika kita mendahulukan hal-hal kecil yang lebih bermanfaat kemudian barulah kita berusaha meraih sesuatu yang lebih besar. Kalau bisa dimisalkan, seperti kebutuhan primer dan sekunder. kebutuhan primer yang lebih penting harus didahulukan kemudian,baru memenuhi kebutuhan sekunder.
Wallahu a'lam bishowab
Bermuka masam. Dari apa yang aku tau, aku cerita sama temen aku itu.. Ayat itu turun setelah Rasulullah sedang bersama pembesar kaum Kafir Quraisy namun ada seorang sahabat yang datang. Abdullah Ibnu Ummi Maktum, seorang sahabat yang buta namun sangat bersemangat untuk belajar islam kepada rasulullah SAW. Rasul menanggapi permintaan Abdullah Ibnu Ummi Maktum dengan wajah yang masam. kemudian Allah menegur Rasul dengan menurunkan ayat tersebut.
Hanya diskusi yang sangat singkat antara aku dan temanku saat itu. Diskusi yang hanya mendiskusikan apa yang kita pikikan tentang ayat tersebut.
Kami menggambarkan, bahwa saat itu rasulullah sedang bersama pembesar Kafir Quraisy yang menurut kami mereka adalah orang-orang yang memiliki hati sekeras batu yang susah untuk dilunakkan. Sedangkan, ada seorang sahabat yang sangat ingin mendapat nasehat dari rasulullah. seseorang yang sudah masuk Islam tentunya. berada di sekitar beliau.
Dengan gambaran itu, kami mencoba membayangkan jika hal itu berada pada jaman sekarang. Kami mengumpamakan para pembesar adalah sesuatu yang kita kejar, namun belum tentu kita bisa dapatkan padahal, di sekitar kita sangat banyak sesuatu yang belum kita raih dan kadang sekalipun kita tidak menghiraukan keberadaannya. Hal-hal kecil itulah yang sebenarnya sedang menunggu uluran tangan kita untuk diraih.
"Mengapa kita mengejar sesuatu yang memang besar,namun belum tentu kita meraihnya. padahal di sekitar kita banyak yang menyambut uluran tangan kita?" Bagaimanapun, kita tidak boleh meremehkan hal-hal kecil yang sebenarnya lebih bermanfaat daripada hal-hal yang lebih besar.
Tidak ada salahnya jika kita mendahulukan hal-hal kecil yang lebih bermanfaat kemudian barulah kita berusaha meraih sesuatu yang lebih besar. Kalau bisa dimisalkan, seperti kebutuhan primer dan sekunder. kebutuhan primer yang lebih penting harus didahulukan kemudian,baru memenuhi kebutuhan sekunder.
Wallahu a'lam bishowab
Selasa, 10 Juni 2014
KH. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah
Siapa yang tak mengenal KH. Ahmad Dahlan? Atau, siapa yang tak pernah mendengar nama Muhammadiyah sebagai organisasi Islam di Indonesia?
KH. Ahmad Dahlan lahir pada tanggal 1 Agustus 1968 di Yogyakarta.Ia adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Bear Kasultanan Yogyakarta pada masa itu.
Pada suatu hari, saat beliau beranjak pada usia 15 tahun, beliau pergi haji dan menetap selama lima tahun. Saat itulah, beliau bertemu dengan pembaharu-pembaharu Islam yang terkemuka dari selurus pelosok dunia. Akhirnya, beliau mengganti nama beliau dari Darwisy menjadi KH. Ahmad Dahlan yang sekarang sering kita kenal.
Pada tahun 1903, beliau kembali ke Makkah dan menetap selama dua tahun. Beliau banyak berdiskusi dengan para tokoh seperti Syeh Ahmad Khatib dan KH. Hasyim Asy'ari yang merupakan pendiri NU. Pada akhirnya, KH. Ahmad Dahlan kembali ke Indonesia dan mendirikan sebuah organisasi Islam yang biasa kita kenal dengan Muhammadiyah pada tahun 1912. Tak lupa, beliau pun menemukan pasangan hidupnya setelah kembali dari Makkah. Istrinya bernama Nyai Siti Walidah yang merupakan pendiri organisasi Aisyiyah, pendamping Muhammadiyah.
Muhammdiyah didirikan pada tanggal 18 November 1912 yang bertepatan pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H. Pada awlnya, organisasi ini sempat ditolak oleh orang-orang yang berada di sekitar KH. Ahmad Dahlan. Namun, dengan kesabaran dan kegigihan KH. Ahmad Dahlan dalam berdakwah, akhirnya Muhammadiyah dapat diterima di kalangan masyarakat. Didukung pula dengan profesi beliau sebagai pedagang, beliau lebih mudah dalam berdakwah dan memperluas cakupan organisasi Muhammadiyah. Terbukti hingga sekarang Muhammadiyah dapat dikenali hingga pelosok Indonesia.
Tujuan KH. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah ini adalah untuk memurnikan ajaran agama Islam sesuai dengan Al-Qur'an dan Al-Hadits. Muhammadiyah memerangi TBC (Tahayyul, Bid'ah, dan Churofat) dalam kehidupan masyarakat sehari-harinya. Karena memang, pada saat itu keadaan Islam masyarakat Indonesia sedang pada tahap tercampur aduk dengan ajaran-ajaran animisme dan dinamisme. Maka dari itu, KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah untuk mengembalikan Islam pada Qur'an dan hadits.
Pada suatu ketika, murid-murid KH. Ahmad Dahlan bertanya kepada beliau karena mereka merasa bosan dalam mempelajari QS. Al-Ma'un, tidak berpindah pada ayat atau surat yang lain. Beliau menjelaskan bahwa memang mendalami Al-Qur'an itu tidak hanya dipelajari, namun juga diamalkan. Karena hal tersebut, akhirnya murid-murid beliau menyadari bahwa mereka tidak hanya harus mempelajari, namun juga mengamalkannya.
Selain bergerak dalam pembaharuan dan dakwah, Muhammdiyah juga bergerak dalam kesejahteraan sosial dan pendidikan. Organisasi ini berhasil mendirikan banyak sekolah di Indonesia. Dari yang Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi.
Dalam perkembangannya, Muhammadiyah membentuk banyak majelis yang masing-masing bekerja sesuai dengan bidangnya. Muhammdiyah juga memiliki organisasi kecil yang berada dalam organisasi besar Muhammadiyah. Organisasi-organisasi ini biasa disebut dengan organisasi otonom yang diberikan hak untuk mengurus dirinya sendiri.
Hingga sekarang, Muhammdiyah termasuk organisasi Islam yang terbesar di Indonesia. Karena hal tersebut, Muhammadiyah juga merupakan organisasi yang berpengaruh dalam penentuan hal-hal yang penting, seperti waktu dimulainya Romadhon dan Idul Fitri.
Walaupun sangat banyak organisasi Islam di Indonesia, namun Islam tetaplah Islam. Seharusnya perbedaan tidak menjadikan permusuhan. Alangkah indahnya apabila perbedaan dijadikan sebagai pemersatu umat Islam. Terutama di Negeri kita tercinta, Indonesia.
Rabaanaaj'al baladana baldatan thoyyibatan wa rabbun ghofuur..
Ya Rabb, berikanlah kekuatan dan kesabarah kepada para pemimpin kami..
Muhammdiyah didirikan pada tanggal 18 November 1912 yang bertepatan pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H. Pada awlnya, organisasi ini sempat ditolak oleh orang-orang yang berada di sekitar KH. Ahmad Dahlan. Namun, dengan kesabaran dan kegigihan KH. Ahmad Dahlan dalam berdakwah, akhirnya Muhammadiyah dapat diterima di kalangan masyarakat. Didukung pula dengan profesi beliau sebagai pedagang, beliau lebih mudah dalam berdakwah dan memperluas cakupan organisasi Muhammadiyah. Terbukti hingga sekarang Muhammadiyah dapat dikenali hingga pelosok Indonesia.
Tujuan KH. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah ini adalah untuk memurnikan ajaran agama Islam sesuai dengan Al-Qur'an dan Al-Hadits. Muhammadiyah memerangi TBC (Tahayyul, Bid'ah, dan Churofat) dalam kehidupan masyarakat sehari-harinya. Karena memang, pada saat itu keadaan Islam masyarakat Indonesia sedang pada tahap tercampur aduk dengan ajaran-ajaran animisme dan dinamisme. Maka dari itu, KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah untuk mengembalikan Islam pada Qur'an dan hadits.
Pada suatu ketika, murid-murid KH. Ahmad Dahlan bertanya kepada beliau karena mereka merasa bosan dalam mempelajari QS. Al-Ma'un, tidak berpindah pada ayat atau surat yang lain. Beliau menjelaskan bahwa memang mendalami Al-Qur'an itu tidak hanya dipelajari, namun juga diamalkan. Karena hal tersebut, akhirnya murid-murid beliau menyadari bahwa mereka tidak hanya harus mempelajari, namun juga mengamalkannya. Selain bergerak dalam pembaharuan dan dakwah, Muhammdiyah juga bergerak dalam kesejahteraan sosial dan pendidikan. Organisasi ini berhasil mendirikan banyak sekolah di Indonesia. Dari yang Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi.
Dalam perkembangannya, Muhammadiyah membentuk banyak majelis yang masing-masing bekerja sesuai dengan bidangnya. Muhammdiyah juga memiliki organisasi kecil yang berada dalam organisasi besar Muhammadiyah. Organisasi-organisasi ini biasa disebut dengan organisasi otonom yang diberikan hak untuk mengurus dirinya sendiri.
Hingga sekarang, Muhammdiyah termasuk organisasi Islam yang terbesar di Indonesia. Karena hal tersebut, Muhammadiyah juga merupakan organisasi yang berpengaruh dalam penentuan hal-hal yang penting, seperti waktu dimulainya Romadhon dan Idul Fitri.
Walaupun sangat banyak organisasi Islam di Indonesia, namun Islam tetaplah Islam. Seharusnya perbedaan tidak menjadikan permusuhan. Alangkah indahnya apabila perbedaan dijadikan sebagai pemersatu umat Islam. Terutama di Negeri kita tercinta, Indonesia.
Rabaanaaj'al baladana baldatan thoyyibatan wa rabbun ghofuur..
Ya Rabb, berikanlah kekuatan dan kesabarah kepada para pemimpin kami..
Langganan:
Postingan (Atom)
